Feeds RSS | contact | login

Pilot tempur dan G-Force

Untuk Seorang Pilot, menahan gravitasi (G Force) mungkin adalah hal yang sangat wajib, terlebih untuk pilot fighter (pilot pesawat tempur). Karena seorang pilot fighter harus terbiasa bermanuver dengan pesawat untuk menghindari / melakukan serangan. Tes menjadi seorang pilot tentu sangat ditekankan pada masalah kesehatan, jadi kalau anda jantungan janganlah mencoba coba untuk ikutan tes pilot. Sebuah pesawat tempur ada yang mampu melakukan manuver sampai 10 G tergantung dari jenis pesawatnya, dan biasanya pilot sudah terlatih menahan gaya G sampai 6 G atau bahkan lebih.
Adapun ada dua jenis G manuver dalam istilah penerbangan, yaitu G positif pada saat pesawat melakukan manuver menukik dan G negetaif pada saat manuvermenanjak keatas. Kenapa menahan G sangat penting bagi seorang pilot?. Seorang pilot yang terkena G berlebihan akan menerima efek, Blank Spot ( mata tak mampu melihat alias ngeblank) dan aliran darah dari kaki akan cepat mengalir ke otak, serta mengalami hilang kesadaran G-LOC (Gravity Loss Off Conciousness). Sekarang ini ada berbagai cara untuk membantu pilot melawan gaya G, yaitu memakai G-suite (pakaian khusus penahan G) yang fungsinya menahan bagian betis sehingga darah tidak mengalir ke kaki saat menerima G positif. Pilot juga di latih agar mampu melakukan G straining Manoeuvre, yaitu mengkontraksikan otot abdominal agar aliran darah tidak menjauhi otak. Selain itu pilot juga berlatih pernapasan yang sangat membantu pada saat menerima G Force.
Pada waktu terbang, penglihatan penerbang akan di pengaruhi oleh akselerasi baik radial maupun rektilinier. Gaya-gaya ini mengakibatkan berbagai pengaruh fisiologik bagi penerbang di dalam pesawat. Bila seorang penerbang tempur terpapar gaya centrifugal maka tekanan arteri carotis akan menurun, suatu keadaan akan terjadi di mana tekanan arteri centralis retina tidak dapat lagi mengatasi tekanan bola mata. Pada saat ini fungsi penglihatan akan terganggu. Pada umumnya dapat dikatakan penerbang akan mengalami pandangan keabu-abuan (grey out) pada 4 Gs, pandangan kehitaman (black out) pada 5 Gs, dan kehilangan kesadaran pada 6 Gs, kalau penerbang tersebut tidak memakai Anti-G suit atau teknik pernapasan untuk mengurangi efek gravitasi pada penerbang. Dan apabila seorang penerbang tersebut terpapar gaya G negatif berkepanjangan akan menyebabkan kongesti seluruh pembuluh darah tubuh bagian atas diikuti dengan sakit kepala yang hebat, dan pandangan memerah, ini biasa disebut dengan "red out". Hal ini sangat membahayakan bagi seorang penerbang tempur untuk keselamatan jiwanya.
Ternyata berat juga ya pilot fighter itu, mereka harus mengatasi sendiri (memanagement) ketahanan mereka terhadap tekanan Gravitasi, belum lagi mereka harus konsentrasi pada saat menghadapi musuh, dan menyiapkan instrumen penyerangan ( ini semua terjadi dalam hitungan detik), telat sedikit bisa bisa habis riwayat. Saya pernah melihat sebuah video tentang bagaimana pelatihan pilot pilot amerika untuk membiasakan diri terhadap gaya G, yaitu memakai sebuah alat besar yang berputar secara sentrifugal, dan alat simulator ini bisa diatur gaya G nya untuk men Trainning pilot pilot amerika. Yang terjadi adalah percobaan waktu itu mengundang seorang tentara angkatan udara (bukan pilot) untuk menjadi sukarelawan untuk mengetes kekuatan / ketahanan nya terhadap gaya G, alhasil baru 4 G sang sukarelawan tersebut sudah menyerah, dan merasakan pusing. so hebat bukan pilot tempur itu? ada yang berminat?
Image and video hosting by TinyPic

Sejarah awal mula penerbangan nasional

Baru sekarang visi itu menjadi kenyataan.Tidak saja ibukota propinsi, tapi juga kota-kota lain di pedalaman sudah tersentuh oleh penerbangan tak langsung dari Jakarta. Ini berkat upaya yang dirintis Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pada rnasa perjuangan yang kini buahnya dapat dinikmati bangsa Indonesia, Perintisan penerbangan sipil Nasional, sejarah mencatat bukan terjadi di Indonesia, justru di luar negeri. Negara dimaksud adalah Burma,sekarang bernama Myanmar. Hari itu, 26 Januari 1949, pesawat Indonesian Airways, maskapai penerbangan Indonesia pertama, lepas landas dari Calcutta (India) menuju Rangoon (Burma) untuk melayani pe­nerbangan carterdan regulerdi Myanmar. Modal utama perintisan berupa pesawat DC-3 versi militer C-47 Dakota, hadiah rakyat Aceh kepada pemerintah. Oleh Direktorat Penerbangan Sipil AURI diberi nomor registrasi RI-001 dan diberi nama "Seulawah" yang berarti "gunung emas". Penamaan ini sebagai penghargaan kepada rakyat Aceh yang menghimpun dana untuk membeli pesawat. Dengan telah memiliki sebuah pesawat angkut RI-001 Seulawah, AURI mulai membukajaringan perhubungan udara antaraYogyakarta-Sumatera hingga ke luar negeri. Sebelum Pangkalan Udara Maguwo (sekarang Adi Sucipto) diserang pesawat dan pasukan payung kemudian diduduki Belanda 19 Desember 1948, RI-001 sudah mendapat izin resmi mendarat di sejumlah negara sahabat. Yaitu Filipina dengan restriksi, Burma, India dan Pakistan. Bahkan mendapat izin mendarat pula di Afghanistan, negara-negara Arab dan Australia dengan restriksi, namun belum sempat digunakan. Pesawat Dakota yang dibeli seharga 138.000 Strait dollar (mata uang Malaya) waktu itu, yang saksi pembeliannya berlangsung di Rangoon oleh Opsir Udara III Wiweko Soepono (kemudian menjadi Direktur Utama Garuda Indonesian Airways di pengujung dekade 1960). la diutus KASAU Suryadarma untuk itu. Pesawat tiba di Tanah air akhir Oktober 1948 dan ditempatkan diPangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.

Tercatat pada awal penerbangannya di Indonesia 16 November 1948, RI-001 diterbangkan ke Sumatera hingga ke Rangoon kemudian kembali ke Maguwo. Dua hari kemudian, 18 November hingga 26 November, dengan RI-001, Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatera. Rute yang ditempuh dari Yogyakarta, Jambi, Payakumbuh, Kutaraja dan kembali ke Maguwo lewat Payakumbuh. Waktu itu Wakil Presiden hanya sampai Payakumbuh saja, sedang RI-001 melanjutkan penerbanganke Kutaraja Aceh untuk diperlihatkan langsung kepada masyarakat Aceh sebagai penyumbang. Pesawat disambut meriah oleh masyarakat. Kemudian sejumlah pemuka masyarakat Aceh joy flight dengan "Seulawah". Dalam log book-nya tercatat pada 29 November pesawat digunakan untuk pemotretan udara Gunung Merapi yang tengah menunjukkan tanda-tanda akan memuntahkan laharnya.Tanggal 1 Desember, "Seulawah" lepas landas dari Maguwo menuju Pangkalan Udara Piobang Payakumbuh, membawa sejumlah pegawai pemerintah dan anggota AURI untuk memperkuat pemerintahan dan perjuangan di Sumatera.
Menjelang 100 jam terbangnya, RI-001 pada 4 Desember dari Payakumbuh melanjutkan penerbangan ke Kutaraja. Setelah menambah 1 awak, pesawat meneruskan penerbangan pada 6 Desember ke Calcutta, India untuk menjalani perawatan periodik 100 jam dan memasang long range tank. Sewaktu menjalani pe­rawatan periodik inilah, terjadi serangan Belanda di Maguwo. Dakota RI-001 mau tidak mau tidak dapat kembali ke Tanah Air dan tertahan di Calcutta. Biaya bagi awaknya terus bergulir disamping kewajiban melunasi pembayaran pembelian pesawat C-47 "Seulawah." Pesawat baru dibayar separuh sebab dana yang diterima Wiweko Soepono dari Moetalib, pengusaha merangkap perantara pencairan dana wesel Strait dollar 120.000 dari Residen Aceh, hanya separuh. Yaitu 60.000 Strait dollar digiinakan untuk membayar kapal. Dua alternatif muncul di benak Wiweko untuk melunasi pembelian pesawat. Pertama mendirikan perusahaan penerbangan atau menjual kembali pesawat. Hasil penjualan dipakai untuk melunasi pembayaran C-47. Siasanya digunakan untuk membiayai pendidikan calon penerbang AURI di India. Akhimya pelunasan pembelian pesawat dapat diselesaikan pada 21 Januari 1949. Ke-kurangannya sementara ditutup oleh Perwakilan Rl di India, namun bersifat pinjaman dan harus dikembalikan.

Untuk mengembalikan dana pinjaman tidak ada alternatif lain kecuali mendirikan perusahaan penerbangan. Wiweko menyampaikan gagasannya kepada Opsir Udara III Soedaryono yang memimpin 20 kadet calon penerbang AURI di India dan Opsir Udara III SoetardjoSigitsebagai kopilot pesawat RI-001. Ide ini mendapat dukungan dari Kepala Perwakilan Rl di India, Dr. Soedarsono. Sejak itulah dirintis pendirian maskapai penerbangan nasional Rl di India. Sayang, permohonan tidak dapat dipenuhi Pemerintah India, karena disana telah berdiri dan beroperasi perusahaan penerbangan Indian National Airways.Kesempatan itu datang dari Burma setelah rencana tersebut disampaikan kepada Maryunani, KepalaPerwakilan Rli di Burma. Pemerintah Burma yang sedang butuh jasa angkutan udara untuk menghadapi pemberontakan dalam negeri, memberikan izin pendirian dan pengoperasian penerbangan. Izin keluar bertepatan Dakota RI-001 selesai menjalani perawatan di Calcutta pada 20 Januari 1949. Enam hari kemudian, 26 Januari, dengan badan pesawat bertuliskan Indonesian Airways, RI-001 "Seulawah" diawaki J.H. Maupin (Captain Pilot), Kopilot Soetardjo Sigit dan Soedaryono, Radio Operator Soemarno dan Engineer Ceasselberry dan Wiweko sebagai General Manager, lepas landas dari Calcutta menuju Rangoon, Burma.

Pada hari itu Indonesian Airways membuka lembar pertama sejarah penerbangan sipil Indonesia, meski di luar negeri. Di Burma kala itu beroperasi Union of Burma Airways, Phlippines Airways dan Siamese Airways. Tetapi tidak berani mengambil risiko melakukan penerbangan untuk kepentingan militer Burma. Hanya Indonesian Airways secara spontan berani menerima tugas tersebut, meski harus menghadapi risiko penerbangan sangat berbahaya dan bahkan bisa fatal.Soetardjo Sigit dan Soedaryono masing-masing merangkap Manajer Operasi dan Manajer Administrasi, sedang Soemarno Kepala Komunikasi dalam susunan manajemen Indonesian Airways. Kantor sementara di 30 Thamwe Road, merupakan rumah tinggal Maryunani sekaligus bagi Wiweko, Soedaryono, Soetadjo Sigit dan Soemarno.Dari hasil penerbangannya Indonesian Airways berhasil melunasi pinjaman Perwakilan Rl di India untuk pembelian pesawat RI-001. "tidak saja ini.pendapatan nya bisa disisihkan untuk membantu dana bagi Perwakilan Rl di India dan Burma, membiayai 20 kadet AURI yang sedang belajar terbang di India dan dua anggota AURI yang bertugas belajardi FEATI Filipina, antara lain Nurtanio.
Image and video hosting by TinyPic

Armadanya kemudian berkembang menjadi tiga Dakota. RI-007 (disumbangkan kepada pemerintah Burma sebagai tanda terima kasih pemerintah dan rakyat Indonesia dan RI-001 indonesian Airways dipanggil kembali ke Tanah Air Agustus 1950) dan RI-009 yang memungkinkan Indonesian Airways menyinggahi semua lapangan udara di Burma. Baru setelah pemberontakan berhasil diatasi pemerintah Burma, Indonesian Airways diberi kesempatan melakukan penerbangan komersial biasa dan mendapat tempat mendalam di hati rakyat Burma. Dalam kiprah penerbangan komersial di Burma ersebut, sempat RI-001 berhasil menerobos barikade udara Belanda, terbang dari Mingladon ke Blang Bintang, Aceh. Operasi penerbangan bantuan senjata, amunisi dan peralatan komunikasi . 8 juni1948 tersebut langsung dipimpin Wiweko, dengan Captain Pilot J.H. Maupin, Kopilot Kadet udara Boediarto Iskak, flight operator Soemarno dan engineer Casselberry. Pendaratan malam hari menerobos blokade udara Belanda di Blang Bintang dibantu lampu-lampu mobil yang dinyalakan pada sisi kanan dan kiri landasan. Setelah mendarat RI-001 langsung disembunyikan di bawah pohon karet dan segera barang yang di diturunkan. Berupa 150 senjata laras panjang, enam senapan mesin buatan Inggris termasuk laras cadangannya, sejumlah amunisi, peralatan radio komunikasi dan transmisi serta obat-obatan. Begitu fajar menyingsing di ufuk timur, pesawat telah lepas landas kembali menuju Mingladon Airport, Burma. Pesawat pemburu Belanda baru mengudara setelah matahari mulai bersinar di pagi hari dan menghujani pelurunyadi Pangkalan Blang Bintang.
Sejarah mencatat pada waktu Pemerintah Rl tengah mempersiapkan delegasi ke Konferensi MejaBundar (KMB) di Den Haag, Belanda, Wiweko mengusulkan kepada Ir. Djuanda melalui suratnya kepada KSAU Suryadarma dari Rangoon 25 Juli 1949, agar delegasi Indonesia juga membela Indonesian Airways. Ditulis Wiweko, "... yang perlu diperhatikan, Indonesian Airways harus mempunyai kemerdekaan melakukan inter-nasional dan internal flight atau penerbangan domestik." Hal itu diusulkan sebab dia memperoleh informasi bahwa Djuanda hanya memperjuangkan untuk internal flights. Hal ini mungkin karena ketidaktahuan bahwa Indonesian Airways telah melakukan beberapa kali penerbangan internasional. Diantaranya Rangoon-New Delhi-Rangoon dua kali. Rangoon-Hongkong-Rangoon, termasuk untuk mengambil dua mesin cadangan pesawat. Salah satu kententuan dalam Perjanjian KMB, disepakati perusahaan penerbangan Belanda, KLM Interinsulair terus melaksanakan penerbangan sipil di Indonesia dalam bentuk perusahaan patungan RIS (Republik Indonesia Serikat) dengan KLM (Belanda). Disepakati pula bahwa seluruh personel manajemen berasal dari KLM, suatu keputusan politik penerbangan yang bertentangan dengan konsep kedaulatan udara yang diusulkan. Sebab diyakini bahwa perhubungan udara yang diselenggarakan perusahaan patungan RIS-KLM tidak akan mampu dan bersedia memenuhi kebutuhan angkutan udara di seluruh wilayah Indonesia yang sangat luas. Dari sinilah lahir saran membentuk Dinas Angkutan Udara Militer (DAUM), sekaligus menyiapkan suatu kemampuan agar sewaktu-waktu dapat mengambil alih penyelenggaraaan perhubungan udara nasional.
Image and video hosting by TinyPic
Sejarah mencatat pula, perusahaan patungan itu bernama N.V. Garuda Indonesian Airways yang akan mengambil oper penerbangan interinsulair dari KLM. Tanggal 28 Desember 1949, sehari setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda atas Republik Indonesia, dua pesawat DC-3 Dakota bertolak dari Bandara Kemayoran menuju Yogyakarta.Salah satu pesawat dengan registrasi PK-DPD berlogo "Garuda Indonesian Airways", ditumpangi Presiden Soekarno dalam perjalanan pindah dari ibukota Rl lama Yogyakarta ke ibukota baru Jakarta pada hari itu. Bung Karno-lah yang memberi kata "Garuda" pada nama perusahaan tersebut karena tahu sudah ada Indonesian Airways. Meski sudah beroperasi sejak 28 Desember 1949, baru 31 Maret 1950 perusahaan pe­nerbangan tersebut diresmikan sebagai Garuda Indonesian Airways IW secara de jure sesuai pengumuman berita negara RIS menurut pasal 38 Kitab udang-undang Perniagaan. Indonesian Airways sendiri menurut catatan sejarah ditutup Maret 1950. Secara bertahap, seluruh awak pesawat dan awakdaratnyadialihkan ke DAUM. Pesawat RI-001 "Seulawah" yang terakhir meninggalkan Rangoon, tiba di Andir (sekarang Husein Sastranegara), Bandung pada 2 Agustus 1950. Kepada Angkasa, Wiweko Soepono mengomentari masalah hari lahirnya Garuda, menjelaskan, "Boleh pilih 31 Maret 1950, yakni berdirinya Garuda Indonesian Airways sebagai warisan penjajah Belanda, atau 26 Januari 1949, Indonesian Airways sebagai perusahaan Indonesia murni, hasil perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia, terbang perdana Calcutta-Rangoon. Itulah penerbangan komersial pertama pesawat Republik Indonesia."
(sumber majalah Angkasa dan buku "Dari Blitar ke Kelas Dunia". Wiweko Soepono Membangun Penerbangan Indonesia)

Bagaimana Menerbangkan Helicopter

Secara umum prinsip aerodinamika pada helikopter sama dengan pada pesawat sayap tetap (fixed-wing). Bila aliran udara (airflow) pada fixed-wing mengalir melalui aerofoil yang ada pada sayap, pada helikopter airflow mengalirmelalui baling-baling yang berfungsi sebagai sayap. Itu sebab, helikopter dikenal pula sebagai rotary wing aircraft. Pada helikopter, setiap titik di sepanjang baling-baling rotor utama atau main rotor blades (M/R blades) menghasilkan gaya angkat (lift) yang bervariasi. Lift terbesar ada pada ujung terjauh baling-baling. Gaya yang mengangkat helikopter adalah resultante lift yang dihasilkan di atas main rotor shaft (M/R shaft) atau poros rotor utama. Umumnya, di bawah M/R shaft'm pula terdapat titik berat atau Center of Gravity (CG) helikopter.
Bayangkan helikopter yang sedang mengudara.PutaranM/R Blades akan membentuk main rotor disc (M/R disc) dengan M/R shaft sebagai pusat. Disebut disc, karena saat berputar M/R blades akan membentuk seperti kerucut terbalik. Putaran M/R blades akan menghasilkan lift (daya angkat). Namun, laiknya baling-baling berputar satu arah, Hukum II Newton memungkinkan terjadinya efek puntir atau torque effect. Efek ini membuat badan pesawat berputar ke arah berlawanan dari arah gerak M/R blades. Jika baling-baling berputar searah jarum jam, efek puntir akan menyebabkan badan pesawat berputar ke arah sebaliknya. Mengingat jika dibiarkan penerbangan menjadi tak aman dan nyaman, perancang helikopter memasang baling-baling rotor ekor atau tail rotor blades (T/R blades). T/R Blades selanjutnya berfungsi sebagai anti-torque effect. T/R Bladed sendiri ada dua tipe, yakni tipe dorong (push type) atau tipe tarik (pulltype). Dengan push type, resultan gaya yang dihasilkan T/R disc mendorong pesawat untuk menghasilkan efek anti-torque. Sementara dengan pull type, resultan gaya yang dihasilkan akan menarik pesawat untuk menghasilkan efek anti-torque.
Pada beberapa jenis helikopter, torque effect tidak diredam dengan T/R Blades tetapi dengan Rotor Blades kedua yang dipasang di belakang, di samping, atau di bawah M/R blades dengan arah putar saling berlawanan. Contoh yang dipasang di belakang diterapkan pada heli CH-46 Sea Knight, di samping pada Kaman HH-43B Huskie, dan di bawah seperti pada Kamov Ka-50 Hokum-A.
Arah gerak helikopter akan sangat tergantung dari besarnya pitch atau sudut antara posisi M/R blades saat berputar dengan garis horizontal atau sumbu lateral helikopter.
Image and video hosting by TinyPic
BERIKUT JENIS KEMUDI HELIKOPTER: • Cyclic Stick Kemudi berbentuk tongkat ini umumnya terletak di depan penerbang, di antara kedua kaki. Gerakan cyclic stick a kan mengubah besar sudut M/R blades secara keseluruhan. Akibatnya, arah M/R disc akan berubah, yang seianjutnya akan mengubah arah gerak helikopter. Jika tongkat digerakan ke kiri. M/R disc akan mengarah ke kiri, dan helikopter pun akan terbang ke kiri. Begitu seterusnya. • Collective Pitch Control Umumnya terletak di sebelah kiri pinggul penerbang. Fungsinya, untuk mengubah sudut M/R hladessecara individual yang seianjutnya akan membuat lift pesawat berubah. Jika collective pitch dinaikkan, lift akan bertambah, dan helikopter akan membumbung. • Rudder Pedal Diletakkan di sekitar kedua telapak kaki penerbang. Pedal-pedal ini biasa diinjak untuk mengubah sudut T/R blades. Arah gaya yang dihasilkan putaran T/R blades akan menentukan arah badan pesawat, ke kiri atau ke kanan. Bila sudut T/R blades netral, pesawat akan terbang stabil.
Helikopter akan mengarah terbang ke arah sudut pitch paling rendah. Sudut yang memungkinkan helikopter terbang ke depan, ke samping, atau ke belakang biasa disebut cyclic pitch. Sementara jika pitch dibuat sama, gerakkan yang dimungkinkan hanyalah ke atas dan ke bawah. Jika secara kolektif, sudut pitch dibuat mengecil, helikopter akan turun. Sedang jika secara kolektif, pitch dibuat membesar, helikopter akan membumbung. Itu sebab, sudut yang biasa dipakai untuk terbang hover disebut collective pitch.
Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic
Klik Untuk memperbesar gambar
Related Posts with Thumbnails