Feeds RSS | contact | login

Kegagalan Proyek Timur Tengah AS di Mata Media Barat


Kehidupan di masa sekarang jauh berbeda ketimbang di masa lalu. Kini, setiap gerakan masif di dunia di bidang manapun, mulai dari politik, ekonomi, militer sampai budaya selalu diiringi dengan sorotan media massa. Salah satu contoh nyata dari fenomena tersebut adalah pendudukan AS di Irak. Sekitar setahun sebelum invasi AS ke Irak, publik dunia dibanjiri oleh beragam laporan, analisa, dan berita yang berusaha meyakinkan bahwa di Irak terdapat senjata pemusnah massal. Namun setelah agresi ke Irak berlangsung dan kebohongan soal senjata pemusnah massal terbongkar, taktik media massa tak juga berhenti, tapi bahkan berubah ke format yang lain.
Di masa itu, media-media massa Barat berusaha mengesankan kepada dunia bahwa Irak tidak akan bisa bertahan menghadapi pasukan aliansi internasional. Perlu diingat juga, AS dan Inggris kerap mengklaim dirinya sebagai representasi masyarakat internasional. Selama perang Irak berlangsung, slogan kebebasan berpendapat dan hak asasi manusia (HAM) di media massa diabaikan. Mayoritas media massa dunia pun turut mengiringi langkah kebijakan ekspansionisme AS. Washington bahkan mengontrol seluruh berita terkait dengan kondisi Irak. Selama militer AS tidak mengijinkan, maka tak ada berita sekecil apapun mengenai perang Irak yang bisa disiarkan oleh media-media massa Barat. Berita perang hanya bisa diperoleh lewat komisi pemberitaan militer AS.

Kini, setelah pendudukan AS di Irak lima tahun berlangsung, arah strategi media massa mulai berubah. Jika kemarin mereka bangga dengan kehadiran militer AS yang tangguh di Irak, kini mereka memprioritaskan untuk mengungkap kenyataan mengerikan di balik perang Irak. Kebijakan media massa di sebagian besar negara-negara dunia ramai menampilkan wajah letih serdadu-serdadu AS dan Inggris serta korban dan kerugian perang yang melatarbelakanginya. Mayoritas jurnalis yang dulunya gencar mendukung politik militeristik AS, kini dengan beragam alasan politik dan tekanan opini publik, sedikit banyak mulai mengungkap juga realitas perang dan dampak tragis pendudukan Abang Sam di Irak.Meski perubahan sikap ini relatif bisa membantu masyarakat internasional memahami kondisi perang dan realitas yang dialami rakyat Irak saat ini, namun tentu saja perubahan strategi media-media Barat ini menyimpan alasan khusus. Salah satu alasan politis perubahan arah kebijakan media-media Barat adalah disebabkan faktor pemilu presiden AS dan silang pendapat antara dua partai utama di negara ini. Perseteruan politik antara Partai Republik dan Demokrat juga menjalar hingga ke kancah media massa. Kegagalan AS di Timur Tengah merupakan salah satu serangan propaganda kubu Demokrat untuk memojokkan rival utamnya, puak-puak Republik dalam ajang pemilu.


Alasan lainnya adalah pemberitaan dan protes keras yang gencar dilakukan oleh media-media independen, kalangan jurnalis dan intelektual kritis Barat terhadap tragedi dan dampak buruk invasi AS ke Irak. Kritikan keras itu bahkan mengarah langsung pada media-media pendukung pemerintah AS dan rezim zionis Israel. Tentu saja, media-media yang selama ini dikenal sebagai pendukung perang, akhirnya terpaksa mengungkap sebagian realitas yang ada demi menjaga reputasinya. Untuk mengetahui lebih jauh sejauh mana tingkat perubahan arah kebijakan media-media Barat, menarik rasanya jika kita simak beberapa contoh berikut ini.


Patrick Cockburn, adalah seorang wartawan Inggris yang aktif di kawasan Timur Tengah sejak 1979. Ia banyak menulis sejumlah makalah dan buku mengenai Saddam Hussein dan perang Teluk Persia yang pertama. Dalam artikelnya di majalah cetakan AS, Counter Punch, Patrick memaparkan kesaksiannya tentang pendudukan AS di Irak. Dalam artikelnya yang bertajuk "How to Destroy a Country in Five Years? (Bagaimana Menghancurkan Sebuah Negara dalam Lima Tahun?)" ini, ia menulis, "Pendudukan selama lima tahun telah menghancurkan Irak sebagai sebuah negara...dibanding perang di tahun 1991, perang tahun 2003 memiliki situasi yang berbeda. Liputan televisi dan pers pada perang pertama benar-benar bohong. Pasalnya, mereka berusaha untuk menciptakan perasaan perang total, padahal perang dengan artian bentrokan antara dua tentara, nyatanya tidak terjadi. Namun mengenai perang kedua, mereka menyatakan, ‘Jika AS hengkang, kekacauan bakal muncul. AS masih bertahan, namun kekacauan tetap saja terjadi. Saya lihat, serdadu-serdadu AS membakar tank-tank kosong Irak di jalan-jalan pinggiran Baghdad, supaya mereka bisa mengesankan situasi perang total kepada pemirsa televisi".


Lebih lanjut Patrick menambahkan, "Kendati mayoritas rakyat Irak menginginkan Saddam Hussein hengkang, namun mereka tidak ingin kekuatan asing menduduki negaranya. Kini, pasukan AS, milisi AlQaeda, dan pelbagai kelompok di Irak berperang untuk merebut kekuasaan. Namun sampai sekarang AS tak juga mampu memperbaiki reputasinya lantaran menggelar perang tersebut."


Salah satu strategi yang digunakan media massa dalam situasi perang Irak saat ini adalah memanfaatkan pendapat para pakar dan menampilkannya. Tampaknya mereka ingin menampik tudingan yang selama ini muncul. Mereka menyuguhkan analisa para pakar tentang situasi aktual perang dan problema yang dihadapi AS. Media-media Barat seolah-olah hendak menempatkan dirinya hanya sebagai perantara yang memperkenalkan suatu informasi.

Baru-baru ini, koran cetakan Inggris, Daily Mail dalam laporannya berusaha membeberkan faktor ketidakmampuan AS dalam meraih kemenangan di perang Irak. Penulis artikel tersebut menilai bahwa penambahan tentara di Irak sebagai strategi yang gagal dan menganggap sama hinanya seperti kelakar Presiden Bush lima tahun lalu. Ia menulis, "George Bush, lima tahun lalu, saat menyerang ke Irak menandaskan, ‘Permainan telah usai'. Namun kini kita saksikan bahwa tentara AS sudah letih dan kekuatan Washington nyaris hancur".
Oleh karena itulah, Joseph E. Stiglitz, ekonom masyhur yang memprediksikan biaya perang Irak menghabiskan 3 triliun USD dalam wawancaranya dengan penulis artikel tersebut menuturkan, "Petualangan AS di Irak bukan hanya yang terpanjang dan perang termahal di sepanjang sejarah AS tapi juga merupakan yang paling sia-sia".

New York Times, merupakan salah satu media massa AS lainnya yang mengkritik politik perang AS di Irak. Koran ini baru saja merilis hasil polling seratus sejarawan AS. Dalam polling ini, mereka menilai George W. Bush sebagai presiden AS yang paling buruk. 98 persen dari mereka beranggapan juga bahwa masa delapan tahun kepemimpinan Bush merupakan era kekalahan AS. New York Times menambahkan, "Selama 8 tahun terakhir, AS mengasingkan dirinya sendiri. Alasan ini sudah cukup untuk kita nyatakan bahwa era saat ini merupakan era kekalahan di segala bidang". Para sejarawan ini mengutuk Bush lantaran ia telah menjadikan AS sebagai negara yang dibenci oleh masyarakat internasional". Di bagian lain artikelnya, New York Times menulis, "Diplomasi Cowboy Bush telah menggambarkan AS sebagai negara adidaya yang licik, tukang tipu dan musuh.


Begitu juga dengan Seymour Hersh, wartawan senior AS. Seraya merujuk pendapat tokoh sosiolog AS, Hersh menyebut taktik pemerintahan Bush dalam perang Irak sebagai realisme orang-orang gila. Ia menulis, sebagaimana yang terjadi dalam perang Korea selama bertahun-tahun, lantaran takut akan dampak kekalahan AS di Irak, mereka terpaksa menempuh suatu jalan yang tidak mereka ketahui lika-likunya dan hanya mengeluarkan perintah serangan dan perang yang lebih banyak.


Hersh juga menyinggung pernyataan sejumlah politisi AS dan menyebut mereka sebagai pencari kekuasaan yang gila. Mereka tidak tahu dampak dan dimensi ledakan kekuasaan dan hanya bisa berkata-kata. Di bagian akhir artikelnya, Hersh menulis bahwa kita harus akui, pemerintahan Bush berhasil merealisasikan slogan Caligula secara sempurna. Caligula adalah kaisar setengah gila imperium Roma pada abad pertama. Ia pernah berkata, "Biarkan mereka membenci kita, tapi mereka takut pada kita".


Sebelum menutup perjumpaan kita, menarik kiranya jika kita tengok sebuah foto yang melukiskan secara apik mental intervensi AS dan dampak akhirnya. Foto pilihan tahun 2007, yang dimenangkan oleh fotografer bernama Tim Hetherington. Foto itu diambil pada 16 September 2007, di jurang Karangol Afghanistan, yang melukiskan seorang serdadu AS duduk letih di atas tanah yang lusuh di samping tenda. Sang fotografer menuturkan, ini adalah gambar seorang lelaki letih, yang mengungkapkan letihnya suatu bangsa dan akhir perang Irak. Dewan juri pemilihan foto tahunan terbaik dunia yang ke-51 "World Press Photo mengumumkan foto tersebut sebagai foto berita terbaik tahun 2007. Sebuah foto yang juga melukiskan tumbangnya kedigdayaan suatu kekuatan adidaya." (sumber:http://indonesian.irib.ir)

Ketika Pelaku dan Korban Sama Sama Bengis



Kita mungkin masih ingat bagaimana dunia dibuat gempar dan semua mata tertuju ke eropa pada saat Hitler dengan kendaraan politik NAZI nya menghabisi yahudi dengan program Holocoust nya.Kejadian kemanusian yang menurut saya bila di runtut kebelakang penuh dengan intrik, namun terlepas dari itu semua nyawa tetaplah nyawa, sehembus nafas yang bernama nyawa itu di masukan ke dalam tubuh manusia oleh Tuhan dan harus direnggut pula oleh sesama dibungkus intrik politik sebuah golongan rakus.kejadian itu kemudian merubah dunia dan membawa sebuah era baru yang akhirnya tak lebih baik dari era pembantaian eropa tersebut.







Sebuah negara dibuat dengan tujuan memulangkan kaum yahudi eropa ke tanah palestina.Sebuah keputusan yang entah terpikir atau tidak oleh para pengambil keputusan waktu itu, yang ternyata pada akhirnya membuat sebuah pertikaian panjang tak berujung. Palestina, sebuah nama yang memiliki sejarah panjang bagi tiga agama langit (samawi; Islam, kristiani dan yahudi), merupakan sebuah wilayah yang selalu dibanjiri oleh tangis dan air mata sejak berpuluh puluh abad silam. Di mulai dari anjuran Perang Salib (crussader) dari Paus urban II yang konon merupakan perang terpanjang dalam sejarah yang memakan waktu 200 tahun dan hingga saat ini masih berlangsung pertikaian demi pertikaian.kota suci bagi 3 agama tersebut berada di situ, mulai dari Masjidil Aqsa, tembok ratapan dan juga tempat lahirnya Yesus Kristus.kalau memang tujuan Agama yang bertujuan untuk memiliki Palestina, mengapa sampai harus jatuh korban dimana mana demi sebuah rumah ibadah yang dianggap suci? Intrik politik dan kerakusan lah yang akhirnya memainkan peranannya di wailayah ini.Banyak tujuan politik kotor bermain di tempat ini.



Korban Pembantai Israel di Sabra Shatila 


jalanan di gaza yang tergenang darah




Kaum yahudi (zionisme) yang dulu dibantai di Eropa sekarang berubah menjadi pembantai di wilayah palestina, merebut sejengkal demi sejengkal wilayah yang ada.Pertanyaan saya, mengapa pelaku dan korban sama sama beringas?sebuah pertanyaan kecil yang mungkin layak kita renungkan bersama mulai saat ini

Pemilu Sudah Dekat

Pemilu Sudah Dekat

Genderang kampanye menyongsong pemilu sudah di tabuh beberapa waktu lalu, Partai partai mulai mencari simpati golongan pemilih di masyarakat.Banyaknya partai yang meramaikan pemilu tahun ini membuat saya bertanya tanya, apakah semua rakyat pemilih sudah familiar dengan partai partai tersebut satu persatu.mengingat banyaknya kesamaan logo dan ideologi partai yang pasti membuat pemilih bingung, terutama dari kalangan pemilih grassroot atau kalangan bawah.Memang demokrasi sedang berkembang di negeri ini, di era Soeharto, partai yang ada hanyalah 3 partai (PPP, Golkar dan PDI), untuk pemilih pada masa itu memingat dan memahami ideoloi sebuah partai masih sangat mudah, namun yang terjadi belakangan ini, partai partai bermunculan bak jamur di musim hujan.

Dari pengamatan saya pribadi ada 3 benang merah yang saya lihat dari partai partai baru tersebut, yaitu:

  1. Partai baru yang muncul dengan wajah wajah orang lama ( kutu loncat dari partai lama), yang menganggap partai lama mereka sudah tak sejalan dengan pemikiran atau mungkin tak mendapat jabatan di partai lama mereka.

  2. Partai baru yang muncul dengan wajah wajah baru dengan orang orang yang masih fresh dan mencoba terjun ke dunia politik mencari peruntungan dalam pesta demokrasi ini.

  3. Partai Pecahan dengan nama yang hampir sama yang terpecah akibat crash politik dalam induk partai mereka, saya ambil contoh PDIP.

Itu baru sebagian analisa mengenai asas ideologi dan orang orang yang duduk di partai, belum mengenai beberapa kesamaan bentuk logo terkait bentuk logo, gambar dan warna yang begitu banyak kesamaan nya. Coba bayangkan ada berapa partai yang memakai lambang banteng? Ada berapa partai yang memakai lambang bulan sabit?. Semua itu pasti bisa saja dijawab oleh kader kader partai terkait dengan mudah dalam menjelaskan makna dari logo logo tersebut, namun bagaimana aplikasinya di masyarakat, terutama pemilih yang berada di pedesaan yang notabene tak tahu menahu akan makna apa dan segala tetek bengek partai tersebut. Maka akhirnya rakyat menjadi komiditi politik.Yang mereka inginkan hanya kesejahteraan, kemapanan dan ketentraman hidup dengan kebutuhan yang terjangkau!. Giatnya partai partai memasyarakatkan logo logo partai mereka ke masyarakat membuktikan bahwa sebagai partai baru mereka masih belum dikenal di masyarakat umum.Seringkali pada praktiknya, masyarakat hanya di kenalkan dengan identitas logo, seperti “coblos moncongnya”, “coblos Ka'bahnya”, dan lain sebagainya. Dengan demikian masyakarat hanya diberikan gambaran visual logo untuk mendulang coblosan pada partai mereka saja, mengenai asas partai masyarakat banyak yang tidak tahu!itulah kenyataan nya!

Dengan tulisan ini saya ingin anda anda semua pemilih senior atau pemilih baru untuk faham betul betul mengenai bebet, bibit, bobot sebuah partai, bukan hanya termakan kader yang berkampanye dengan hanya mengajak mencoblos logo saja, lebih dari itu masyarakat di tuntut lebih aktif untuk mengetahui latar belakang partai beserta ideologi apa yang di bawanya dan tentunya siapa wakil yang akan mereka ajukan untuk dipilih duduk di kursi dewan.mengingat banyaknya partai partai yang merasa tak pede dan untuk menaikkan jumlah pemilih mereka dengan memasang artis dan selebriti untuk menjadi wakil mereka di parlemen. Dan dari situ pula bisa terjadi kecemburuan dari kader partai yang sudah lama mengabdi sehingga mungkin saja mereka akan cabut keluar partai dan mendirikan partai tandingan,akhirnya ada lagi partai baru. Begitulah politik, rakyat tetap jadi komoditas menarik yang harus mereka raup saat masa kampanye ini.Gunakan mata dan hati untuk memilih. Wassalam (pz) Yang mau Download Profil Partai partai silahkan disini:

Politics : Doktrinisasi Zionis

Doktrinisasi Zionis
London, musim panas 1982. Malam demi malam siaran teve dihiasi dengan pemberitaan keadaan terkini tentang serangan Israel ke Lebanon. Lewat udara dan darat, tentara zionis itu membombardir wilayah-wilayah di Lebanon yang dituding sebagai tempat persembunyian pejuang-pejuang Palestina. Salah seorang warga London yang setia menyimak perkembangan serangan Israel ke Lebanon itu adalah Ang Swee Chai, seorang perempuan, dokter ortopedis kelahiran Malaysia. Sebagai seorang tenaga medis, Dokter Ang begitu miris melihat banyaknya korban sipil yang jatuh akibat serangan itu yang terdiri dari anak-anak kecil dan perempuan tak berdosa. Dalam bukunya yang menggetarkan “From Beirut to Jerusalem” (Kualalumpur, 2002), Dokter Ang menulis, “Lebanon dan Beirut adalah nama-nama asing bagiku. Sedangkan Israel sebaliknya. Gereja telah mengajarkanku bahwa anak-cucu bangsa Israel adalah anak-anak pilihan Tuhan. Teman-temanku sesama Kristiani mengatakan bahwa berkumpulnya orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia di Negeri Israel adalah pemenuhan janji Tuhan yang terdapat dalam pengabaran-pengabar an di Kitab Injil. ” “Aku berpihak pada Israel untuk alasan lain, ” lanjutnya, “Di London, aku menghabiskan waktu berjam-jam menonton acara teve yang menyiarkan penderitaan luar biasa orang-orang Yahudi di tangan Nazi. …Penciptaan Negara Israel, yang memberi semua orang Yahudi sebuah rumah yang membuat mereka terbebas dari penganiayaan dan siksaan, menurutku adalah suatu tindak keadilan—bahkan suatu keadilan dari Tuhan. ” Namun pandangan dokter Ang berbalik seratus delapanpuluh derajat ketika lewat layar kaca dirinya menyaksikan kebrutalan yang dilakukan tentara Israel terhadap para pengungsi Palestina di Lebanon. “Ini benar-benar membuatku marah. Aku tidak bisa memahami mengapa Israel melakukan hal demikian. …Dalam Kitab Perjanjian Lama, raksasa Goliath adalah termasuk orang Filistin penakluk yang meneror lawan-lawannya. Kisah David dan Goliath menjadi salah satu kisah kesukaanku. Pada anak-anak kecil aku suka sekali bercerita bagaimana si kecil David bisa mengalahkan si raksasa Goliath, ” tulis Dokter Ang yang sosok tubuhnya sendiri sangat mungil, tingginya hanya 150 sentimeter. “Meski demikian, dari ulasan teve yang selalu kulihat, tampaknya Israel telah berubah menjadi Goliath; seorang raksasa yang angkuh yang membawa kehancuran, teror, dan kematian kepada saudaranya, Lebanon. …Mengebom orang-orang sipil, dan banyak dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, adalah cara pengecut dalam perang. Apakah Tuhan telah berpaling dari Lebanon?” Dokter Ang kemudian menulis betapa sedih dirinya menyaksikan kebiadaban yang dipertontonkan ‘bangsa terpilih’ tersebut. “Pertama karena mereka telah disakiti oleh Israel, kedua karena aku seorang Kristen, dan ketiga aku adalah dokter. Aku sama sekali tak habis pikir betapa Israel tega menjatuhkan bom-bom fosfor ke tengah penduduk sipil di dalam kota yang sangat padat tersebut. ” Tidak Sekadar Membunuh Penderitaan bangsa Palestina dan Lebanon membuat Dokter Ang berangkat ke Beirut sebagai dokter sukarelawan. Di hari-hari pertama di Lebanon, Dokter Ang telah menjumpai banyak fakta bahwa di wilayah ini Israel telah melakukan semacam uji coba berbagai macam bom-bom terbaru buatan mereka. Beberapa bom mutakhir Israel tersebut antara lain: Implosion bomb atau vacuum bomb yang dijatuhkan dari udara dan ketika meledak mampu menghisap satu blok bangunan sepuluh lantai ke dalam tanah hanya dalam beberapa detik, membuatnya menjadi tumpukan beton dan mengubur seluruh penghuninya hidup-hidup. Selain itu ada lagi fragmentation bomb atau cluster bomb, yang juga dijatuhkan dari pesawat tempur. Beberapa puluh meter di atas udara, cluster bomb yang awalnya terlihat hanya satu akan memecah diri menjadi ratusan bola-bola besi kecil seukuran bola tenis dan menyebar dalam radius ratusan meter persegi. Bom-bom kecil ini tidak segera meledak dan tergeletak di dalam tanah. Jika seorang anak kecil mengutak-atiknya karena dikiranya sebuah mainan, maka bom ini akan meledak dan membunuh atau merusak bagian tubuh di anak tersebut. Bom ini biasanya sengaja dijatuhkan di lokasi padat penduduk. Lalu ada fosfor bomb yang bersifat membakar. “Zat fosfornya menempel di kulit, paru-paru, dan usus para korban selama bertahun-tahun, terus membakar dan menghanguskan serta menyebabkan nyeri berkepanjangan. Para korban bom ini akan mengeluarkan gas fosfor hingga nafas terakhir, ” ujar Doker Ang. Dalam bukunya, dokter yang bersuamikan seorang warga Inggris ini mengatakan bahwa Israel jelas tidak ingin sekadar membunuh musuh-musuhnya namun juga ingin membuat musuh-musuhnya menderita berkepanjangan sebelum menemui ajal. Pembantaian Sabra-Shatila Sabra-Shatila adalah nama dua buah kamp pengungsian Palestina di wilayah Beirut Barat yang letaknya berhimpitan. Selain Sabra-Shatila, ada pula kamp pengungsi Mar Elias, Bour el-Brajneh, dan sebagainya. Seperti layaknya kamp-kamp pengungsian Palestina lainnya, kamp pengungsian Sabra-Shatila yang luasnya tidak begitu besar dihuni oleh ribuan warga Palestina. Mereka tinggal di dalam kamar-kamar sempit dan kumuh di mana fasilitas sanitasi dan kesehatan sangat tidak layak. Beberapa pekan bertugas di Beirut, untuk menghentikan serangan membabi-buta yang dilakukan Israel, para pejuang Palestina akhirnya dievakuasi keluar dari Beirut diangkut dengan kapal-kapal laut di bawah kawalan Perancis dan Italia. PBB Mengirim sejumlah pasukan penjaga perdamaian. Sebab itu, Israel kemudian menghentikan serangannya, setidaknya untuk sementara waktu. Ini terjadi beberapa saat mendekati September 1982. Di Beirut, orang-orang keluar dari tempat perlindungan dan membersihkan semua puing-puing dan jalanan. Harapan hidup kembali bersinar di mata-mata mereka. Bukan itu saja, sesuai permintaan PBB, para ibu-ibu Palestina juga menyerahkan semua senjata api yang tadinya disimpan di dalam rumah sebagai alat penjagaan diri kepada lembaga internasional. “Harapan akan perdamaian terlihat di mata mereka. Para ibu-ibu Palestina menyerahkan semua senjata yang mereka miliki. Mereka mulai membersihkan jalan dan puing-puing rumahnya. Anak-anak kecil mulai bisa berlarian, bermain di jalan-jalan yang masih terlihat kotor oleh puing-puing yang disingkirkan ke pinggirnya. Mereka sangat yakin bahwa kehidupan akan pulih seperti sedia kala, ” ujar Dokter Ang. Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Setelah jalan-jalan bersih dari tumpukan karung-karung berisi pasir, bersih dari beton-beton dan batu-batu yang tadinya sengaja dipasang sebagai barikade, setelah keluarga-keluarga Palestina di kamp pengungsian tidak lagi memiliki senjata, maka suatu malam, 14 September 1982, sebuah ledakan besar terdengar di seantero Lebanon. Calon Presiden Lebanon dari kalangan Kristen, Bashir Gemayel terbunuh. Esok paginya, saat hari masih gelap, udara Lebanon dipenuhi gelegar raungan pesawat-pesawat tempur Israel. Burung-burung besi itu secara royal menjatuhkan bom-bom yang kembali melantakkan Beirut. Bumi tempat Dokter Ang Swee Chai berpijak dirasakan bergetar oleh deru ratusan tank Merkava milik Israel yang berkonvoi masuk Beirut dan mengepung kamp pengungsian Sabra-Shatila. Tank-tank ini diikuti oleh tentara infanteri Israel dan sekutu mereka, Milisi Phalangis, yang terdiri dari orang-orang Kristen Lebanon bersenjata yang memang dekat dengan kaum Yahudi. Kamp-kamp pengungsian yang waktu itu hanya dihuni oleh kaum wanita, jompo, dan anak-anak kecil serta bayi, karena para pejuang Palestina yang terdiri dari laki-laki muda telah pergi, kembali senyap. Mereka kembali masuk kembali ke rumah-rumahnya yang telah hancur dan mengunci diri di dalamnya. Kepungan yang dilakukan tank-tank dan tentara Israel sangat rapat sehingga seekor kucing pun tak akan bisa meloloskan diri. Dokter Ang Swee Chai pagi hari segera menuju Rumah Sakit Gaza yang terletak tidak jauh dari kamp pengungsian Sabra-Shatila. Sepanjang hari Beirut Barat dihujani bom yang dimuntahkan dari tank dan pesawat pembom. “Pukul empat kurang lima belas menit di sore hari, zona pengeboman telah mendekati jarak tiga perempat kilometer dari rumah sakit, orang-orang yang berusaha meninggalkan kamp telah kembali dan mengatakan jika semua jalan yang mengarah ke kamp telah diblokir oleh tank-tank Israel, ” tulis Dokter Ang. Tidak sampai sejam kemudian, tentara Israel menyerbu Rumah Sakit Akka dan menembak mati para perawat, dokter, dan seluruh pasien. Seluruh perempuan di rumah sakit tersebut diketahui diperkosa dahulu sebelum dibunuh. Orang-orang yang berada di sekitar rumah sakit berlarian ke sana kemari mencari tempat yang dianggapnya aman. Mereka berteriak-teriak bahwa tentara Israel mengejar mereka dengan tank. Ketika malam tiba, suara dentuman meriam dan ledakan besar tidak lagi terdengar, hanya saja rentetan senapan mesin masih berlangsung sepanjang malam. Langit di atas kamp Sabra-Shatila terang benderang oleh peluru-peluru suar yang ditembakkan oleh tank dan helikopter. Menjelang pagi, raungan pesawat tempur kembali terdengar disusul suara ledakan keras di sana-sini. Rentetan tembakan tidak pernah berhenti. “Ini membuatku bertanya-tanya apakah di kamp itu masih ada pejuang-pejuang Palestina?” tanya Dokter Ang keheranan karena ia tahu betul bahwa tidak ada seorang pejuang Palestina pun yang masih ada di kamp. Ketika hari mulai siang, Dokter Ang kedatangan banyak sekali perempuan-perempuan Palestina yang terluka tembak. Dari mereka Doker Ang mengetahui jika tentara Israel mengawal anggota-anggota milisi Kristen Phalangis untuk membantai orang-orang Palestina di kamp Sabra-Shatila. Dalam bukunya, Dokter Ang yang menjadi salah satu saksi mata tragedi pembantaian kamp Sabra-Shatila menulis, “Tentara-tentara Israel dan sekutunya itu merangsek ke rumah-rumah dan gang-gang kecil sambil menembakkan senjata mereka dengan royal. Granat dan dinamit mereka lemparkan ke jendela-jendela rumah yang penuh berisi orang. Para perempuan banyak yang diperkosa sebelum dibunuh. Para bayi Palestina diremukkan tulang-tulang dan kepalanya sebelum dibunuh. Banyak anak-anak kecil dilempar ke dalam api yang menyala-nyala, yang lain tangan dan kakinya dipatahkan oleh popor senjata. Untuk pertama kalinya, aku menangis di sini. ” Sejarah mencatat, pembantaian Sabra Shatila merupakan genosida paling berdarah. Hanya dalam waktu tiga hari, tidak kurang dari 3. 297 orang Palestina—kebanyakan para perempuan dan anak kecil, bahkan bayi-bayi—menemui ajal dengan cara yang amat mengerikan. Anehnya, PBB dan dunia internasional tidak mengecam tragedi besar ini. Media Barat pun banyak yang berupaya menutup-nutupi fakta yang terjadi. Doktrin Rasisme Talmud Yang jadi pertanyaan: Mengapa orang-orang Israel itu mampu melakukan kesadisan dan kebiadaban yang amat mengerikan terhadap orang Palestina yang sama sekali tidak berdaya apa-apa. Jawabannya diberikan sejarawan Illan Pappe, seorang Yahudi yang menyandang julukan “Orang Israel yang paling dibenci di Israel”. Pappe adalah salah satu sejarawan Yahudi yang memilih memihak pada hati nurani dan tanpa takut membongkar mitos-mitos Zionisme. Saat ditanya, kenapa orang Israel bisa melakukan berbagai kekejaman terhadap orang Palestina, Pappe menjawab, “Ini buah dari sebuah proses panjang pengajaran paham, indoktronasi, yang dimulai sejak usia taman kanak-kanak, semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada, dan penuh kebencian: Orang itu memang penuh kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah dirampas tanahnya. ” (Baudoin Loos, “An Interview of Illan Pappe, ” 29 Nov 1999, http://www.josephcooper.eu/videos/21.html, http://www.counterpunch.org/barat06062008.html Indoktrinasi terhadap anak-anak Israel berlanjut hingga ia besar. Ayat-ayat Talmud dijadikan satu-satunya “pedoman moral” bagi mereka. Yang paling utama adalah indoktrinasi bahwa hanya bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang yang lain adalah hewan. Sejak Usia Dini Penanaman doktrin rasisme yang terdapat dalam Talmud dilakukan para orangtua kaum Zionis kepada anak-anak mereka sejak dini. Survei yang diadakan oleh Ary Syerabi, mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat dia bergabung dengan London Institute for Economic Studies, sungguh mengguncang nalar kita. Ketika itu Ary ingin mengetahui perasaan apa yang ada di dalam benak anak-anak Israel terhadap anak-anak Palestina sebaya mereka yang sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu Ary memberikan sehelai kertas dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata, “Tulislah surat buat anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan pada mereka. ” Hasilnya sungguh mencengangkan. Anak-anak Israel yang menyangka suratnya benar-benar dikirim kepada anak-anak Palestina menulis surat mereka dengan sebenar-benarnya, keluar dari hati terdalam. Apa saja yang mereka tulis? Salah satu surat ditulis oleh seorang anak perempuan Israel berusia 8 tahun. Ia mengaku menulis surat kepada anak perempuan Palestina seusianya. Isi suratnya antara lain: “Sharon akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung… dan membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami, wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) dari mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian…ha…ha…ha” Bocah Israel itu menggambar sosok Sharon dengan kedua tangannya menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.(!) Ayat-Ayat Talmud Di bawah ini adalah segelintir ayat-ayat Talmud yang dijadikan doktrin perang tentara Israel. Dalam peperangan, seorang tentara Israel wajib mendaras Talmud dalam kesempatan yang khusus. Terlebih di hari Sabbath (Sabtu). - “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta menipu Ghoyim (non-Yahudi)” (Baba Kamma 113a) - “Semua anak keturunan Ghoyim sama dengan binatang, ” (Yebamoth 98a) - “Seorang Ghoyim yang berbaik pada Yahudi pun harus dibunuh, ” (Soferim 15, Kaidah 10) - “Barangsiapa yang memukul dan menyakiti orang Israel, maka ia berarti telah menghinakan Tuhan, ” (Chullin, 19b) - “Orang Yahudi adalah orang-orang yang shalih dan baik di mana pun mereka berada. Sekali pun mereka juga melakuan dosa, namun dosa itu tidak mengotori ketinggian kedudukan mereka, ” (Sanhedrin, 58b) - “Hanya orang Yahudi satu-satunya manusia yang harus dihormati oleh siapa pun dan oleh apa pun di muka bumi ini. Segalanya harus tunduk dan menjadi pelayan setia, terutama binatang-binatang yang berwujud manusia, yakni Ghoyim, ” (Chagigah 15b) - “Haram hukumnya berbuat baik kepada Ghoyim (Non-Yahudi) , ” (Zhohar 25b)

Mengapa Pesawat Bisa Menghilang dari radar


Kemajuan jaman membuat teknologi dirgantara semakin pesawat perkembangannya, pada saat ini ada tiga kubu kuat di dunia dengan teknologi pesawatnya yang sangat maju. Yang pertama tentunya Amerika serikat, kedua adalah Eropa dan yang terakhir adalah Russia. Ketiganya berlomba membuat pesawat tempur dengan teknologi yang lebih maju dari yang lainnya.untuk urusan stealth yang memimpin tetap Amerika serikat, sedangkan Russia tak bisa diangap enteng dengan kelebihan kelebihan manuvernya, meskipun Amerika juga telah mengembangkan teknologi manuver yang tak kalah gesitnya dengan Russia seperti penerapan Thrust Vectoring, yang mana “knalpot” pesawat bisa berbelok belok ke segala arah.tapi diantara semua teknologi tersebut yang akan saya bahas disini adalah mengenai bagaimana pesawat mendapat julukan Stealth (indonesia: Siluman, bisa menghilang).

Ada beberapa pesawat muthakir milik Amerika yang masuk kategory ini yaitu pesawat F-117, F-22, JSF F-35, dan B-2. Untuk urusan Stealth sendiri bisa di akali pihak pabrikan dengan membuat design pesawat yang minus lekukan yang fungsinya adalah memperkecil sudut sudut tajam yang bisa ditangkap oleh radar dan muncul pada RCS (radar cross section), selain itu ada pula pesawat pesawat yang udah agak uzur seperti F/A-18 Hornet (walaupun tidak bener bener uzur karena telah mengalami upgrade lebih dari 30 persen) yang melapisi beberapa bagian pada pesawat nya dengan lapisan anti radar seperti pada ujung ujung sayap utama dan bagian ruder nya.


Untuk stealth sendiri akan saya bahas dengan mengambil contoh pesawat F-117 dan F-15 untuk komparasinya

klik for detail

Pada gambar diatas Sebuah pesawat F-117 dapat menghindari radar karena pada desain pesawat tersebut memiliki minus lekukan sehingga radar yang datang dari musuh akan di pantulkan sehingga yang muncul pada monitor RCS musuh hanyalah dot dot (titik titik) yang sangat kecil yang bisa dianggap sebagai gerombolan burung dan bukanlah pesawat yang sedang menyelinap.

klik for detail

Gambar kedua ini adalah sebuah F-15 Eagle yang dalam desainnya banyak memiliki lekukan lekukan tajam pada bodynya sehingga dapat di tangkap oleh radar dengan baik dan muncul dalam monitor RCS sebagai dot dot pesawat tempur yang menyusup. Mungkin seperti itulah gambaran mudahnya mengapa sebuah pesawat bisa lolos dari monitor pengawas musuh, namun begitu pesawat F-117 ternyata memiliki kelemahan juga, pada saat konflik Yugoslavia, pesawat ini tertangkap radar dan tertembak jatuh oleh misil SA-3 SAM buatan Russia.ternyata jatuhnya pesawat itu pada saat bom bay nya (pintu bom) dalam keadaan terbuka sehingga mungkin sudut sudut tajam itulah yang tertangkap oleh radar kemudian di seranglah dengan misil darat ke udara tersebut (surface to air missile). Kesimpulannya, akan perlu penyempurnaan pada setiap generasi pesawat tempur, dengan penyempurnaan tersebut lah pihak suatu negara memperkecil jumlah korban jiwa yang berjatuhan.

Israel, Arab, PBB dan Amerika

Serangan angkatan Bersenjata Israel yang berlangsung belakangan ini ke kota Gaza mendapat kecaman luas dari masyarakat dunia, negara negara lewat kepala negaranya melayangkan kecaman dan kutukan ke negara yahudi ini.Demonstrasi besar besaran juga menjadi bagian dari sikap protes yang dilakukan banyak negara. Pertanyaan nya adalah mengapa Amerika sebagai negara pemegang kekuasaan terbesar di bumi ini hanya diam? Begitu juga PBB, kemana mereka? Amerika yang konon menjunjung tinggi HAM dan PBB yang seharusnya menjadi mediator konflik ini nyaris tak bersuara. Yang terakhir adalah Sekjen PBB mengeluarkan “kecaman”lewat konfrensi pers namun belum ada tindakan nyata untuk menghentikan ketegangan itu. Israel tetap melayangkan roket nya ke arah Gaza lengkap dengan armada pesawat tempur nya.

Jika di tinjau lebih jauh, keberadaan Amerika di tengah konflik ini cenderung sebagai pihak yang pro Israel, itu sudah tidak aneh lagi karena tampuk kekuasaan strategis di Amerika banyak yang sudah di tempati oleh simpatisan Israel.Jadi tidak aneh kalo segala kepentingan strategis di Timur tengah, terutama mengenai Israel sudah dipikir masak masak oleh pihak pihak itu mengenai untung ruginya. Barack Obama, sebagai presiden terpilih pun hanya diam saja dan tak langsung mengeluarkan statement apapun.ini membawa persepsi tersendiri bagi masyarakat dunia bahwa Obama merupakan presiden yang sudah di atur segalanya di balik layar sehingga tak kan bisa berbuat banyak, tidak Obama saja, menurut saya Bush dan lainnya pun banyak yang dikendalikan oleh agen agen Zionis dibalik layar, Condoliza Rice, menteri urusan luar negeri Bush merupakan antek Israel yang pastinya akan selalu melindungi semua kebijakan mengenai Israel, begitu pula menteri luar negeri pilihan Barrack Obama Hillary Clinton. Bagaimana konflik di Timur tengah setelah naiknya Obama ke tampuk kekuasaan? Saya rasa tidak terlalu banyak berubah.

Keberadaan negara negara arab yang tergabung dalam OKI pun tak bisa berbuat banyak, selain mereka sudah menjadi pengikut Amerika yang sejatinya pembela abadi israel, negara negara arab tersebut juga tidak memiliki satu visi yang sama dalam kata lain tidak kompak!, hanya Syuria, Iran dan sudan lah yang memiliki hubungan kurang baik dengan Amerika.lainnya?? lainnya hanya bisa menjilat Amerika. Banyak kasus pemimpin pemimpin Arab memberi hadiah hadiah tak terhitung jumlahnya kepada penguasa penguasa Amerika. Contohnya Arab saudi, Kuwait, Qatar dan UEA, sehingga daya kritisisi mereka terhadap israel sudah hilang. Ini mengakibatkan Palestina hanya berjuang sendiri di jazirah itu. Pemimpin pemimpin negara Arab tersebut mendonasikan uang dan kekayaan mereka buat orang orang penting di Washington dan entah mereka sadar atau tidak uang tersebut di putar untuk kepentingan Israel. Jadi secara tidak langsung banyak negara Arab yang menyumbangkan uang mereka untuk menghancurkan Palestina! Himbauan negara negara Arab atau kecaman kecaman politik mereka ke Israel saya rasa hanya pemanis dan sekedar bualan saja, tidak ada langkah untuk bersatu dalam koalisi kuat untuk membentengi dominasi Israel dalam konflik yang sudah memborok itu. Dan bila semua itu belum terjadi, maka Palestina masih akan berjuang melawan kebiadaban Zionisme Israel

Selamat Tahun Baru


Tahun Baru baru saja berlalu dalam hitungan menit, apa yang kita harapkan di tahun depan? Selalu yang baik baik bukan? kita pasti ingin sukses dan meraih semua impian di tahun 2009 ini. Tapi tahukah kalau hal sebaliknya terjadi pada bumi kita ini? Bertambah lagi umur bumi yang sudah renta ini, bertambah beban penduduk, bertambah nya polusi, bertambahnya penebangan hutan, bertambah pencemaran dimana mana. Semua itu seolah olah belum berhenti dan akan terus berlanjut demi kesuksesan pribadi, golongan, bahkan negara. Pernahkah kita berfikir untuk berbuat lebih ramah terhadap lingkungan dan bumi ini,mengingat masih ada anak cucu kita yang akan menikmati tahun baru mendatang dengan suasana bumi yang masih ramah dan layak untuk dihuni.selamat tahun baru sahabat sahabat semua.semoga itu semua jadi bahan renungan kita bersama
Related Posts with Thumbnails