Feeds RSS | contact | login

Mengenal gempa dan usaha pencegahan korban


Gempa padang kemarin lagi lagi membuat Indonesia berduka, belum hilang ingatan kita tentang gempa Tasikmalaya dan beberapa gempa sebelumnya yang merenggut banyak jiwa. Indonesia merupakan sebuah daerah yang merupakan pertemuan beberapa lempeng yang pada akhirnya menimbulkan gesekan gesekan antar lempeng yang berdampak gempa, selain itu posisi kita pada "ring of fire" juga bisa menjadi triger untuk aktivitas gunung berapi yang begitu banyak tersebar di Indonesia. Tatanan geologi wilayah Indonesia saat ini terjadi sebagai akibat interaksi 3 lempeng utama dunia, yaitu Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke arah barat-baratlaut dengan kecepatan sekitar 10 cm per tahun, Lempeng Samudra India-Benua Australia (Indo-Australia) yang bergerak ke utara-timur laut dengan kecepatan sekitar 7 cm per tahun, serta Lempeng Benua Eurasia yang relatif diam, namun resultante sistem kinematiknya menunjukkan gerakan ke arah baratdaya dengan kecepatan mencapai 13 cm per tahun.


Ring Of fire
Hasil interaksi lempeng-lempeng tersebut menyebabkan terjadinya berbagai peristiwa geologi, salah satunya kegiatan magmatik dan terbentuknya zona-zona kegempaan dengan intensitas tinggi. Selain dikarenakan pergerakan antar lempeng, terjadinya gempa juga berkaitan dengan keberadaan sesar aktif yang membentang di beberapa wilayah, di antaranya sesar Sumatera, sesar Palu, sesar di Papua, atau sesar yang lebih kecil seperti sesar Cimandiri, Jawa Barat.




Fakta dan data gempa padang

Dari data yang ada, pada jalur Sumatera (andalas) telah terjadi beberapa gempa besar antara lain : Gempa Aceh yang di ikuti tsunami dengan kekuatan 8.9 SR (26 desember 2004), Gempa Nias dengan kekuatan 8.2 SR (28 maret 2005), Gempa padang dengan kekuatan 7.4 SR (10 April 2005), Gempa Indramayu dengan kekuatan 7.5 SR (9 agustus 2007), Gempa bengkulu dengan kekuatan 7.9 SR (12 september 2007), Gempa padang dan Jambi 7.7 SR (13 september 2007), Gempa di simeulue, sinabang, NAD dengan kekuatan 7.3 SR (20 februari 2008), Gempa di bengkulu dan kep. Mentawai dengan kekuatan 7.2 SR, Gempa di tasikmalaya dengan kekuatan 7.3 SR, serta gempa padang kemarin berkekuatan 7.6 SR, dan menurut ramalan akan ada gempa besar lagi dengan kekuatan 8.9 SR.

bumi/daratan yang kita pijak ini tak ubahnya seperti perahu yang berada diatas lautan magma (core atau inti bumi) lempeng inilah yang saling berdesakan satu sama lain dan menimbulkan gempa


lempeng lempeng yang ada di sekitaran sumatera

Kita yang hidup di Indonesia sepertinya harus lebih Aware lagi dengan gempa dan tsunami, mengingat keadaan geologis kita berkata seperti itu, mungkin kita perlu belajar banyak pada Jepang, sebuah negeri yang tiap tahun nya tak kurang diguncang 400 kali gempa mengenai kesiapan warga menghadapi gempa sampai konstruksi anti gempa mereka. berikut ada tips yang perlu kita lakukan apabila terjadi gempa bumi.

1. Ambil posisi di samping benda keras seperti sofa atau lemari atau berbaringlah disebelah tempat tidur (jangan dibawah tempat tidur). hal ini dianjurkan karena jikalau beton atau reruntuhan menimpa maka posisi jatuh akan menimpa benda itu dan akan menyisakan sedikit ruang bagi anda untuk survive dan menunggu bantuan.
2. Rumah berbahan kayu lebih aman karena memilik konstruksi yang lentur dan cenderung aman apabila terjadi gempa karena banyak menyisakan ruang kosong.
3. Bila saat anda berkendara di tengah gedung gedung tinggi maka resiko tertimpa reruntuhan akan semakin besar, segera keluar dari mobil anda dan berbaring tepat disamping kendaraan karena bila sesuatu meremukkan kendaraan anda maka akan menyisakan ruangan sekitar 1 meter dan itu cukup bagi anda untuk selamat dan menunggu pertolongan, Ingat, disamping kendaraan bukan di kolong kendaraan.
4. Bila berkerja di perkantoran tinggi, saat menyelamatkan diri janganlah menggunakan Tangga, karena tangga memiliki momen frekuensi yang berbeda dan tangga akan berayun terpisah dari bangunan utama.
5. berdirilah di dekat dinding paling luar dari bangunan atau disebelah luarnya jika memungkinkan. akan lebih aman untuk berada di sebelah luar bangunan daripada di dalam nya. semakin jauh anda dari ruang luar bangunan akan semakin besar kemungkinan jalur menyelamatkan diri anda tertutup.
6. Bila ada peringatan gempa akan disusul Tsunami, jauhi daerah pantai dan cari tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri.
7. Pada saat gempa banyak yang berlari ketengah jalan raya, berhati hatilah, memang di anjurkan meringkuk tapi bahaya akan kendaraan yang diparkir tiba tiba berjalan dengan sendiri terkena efek gempa sangat berbahaya. saya sendiri pernah mengalami saat gempa besar dan teman saya nyaris tertabrak mobil yang tiba tiba mundur, carilah tempat terbuka lain yang lebih aman, seperti tanah lapang.
8. Bagi teman yang berada di daerah pegunungan, waspadai longsor, hal ini belajar dari kejadian Tasikmalaya kemarin.
9. Jangan panik, sebenernya ini yang utama, pada kasus gempa Padang kemarin, pengunjung yang berada di Mall andalas, nyaris memenuhi satu pintu keluar sehingga kemungkinan akan terinjak injak atau terjepit sesama pencari selamat lain nya akan semakin besar, usahakan menghapal letak pintu keluar/masuk pada mall yang kita kunjungi sebagai usaha jaga jaga bila terjadi gempa.

sekedar tambahan saya sertakan artikel saya sebelum nya, yang saya rasa mungkin berguna untuk pengetahuan kita mengenai Skala gempa, skala gempa terdiri dari level 1 sampai dengan 12, berikut penjelasan nya.

Intensitas gempa bumi terungkap kekuatannya dengan menggunakan Skala Richter angkanya berkisar antara 1,5 hingga 10. Angka-angka ini menun-jukkan kerasnya gempa bumi dan kerusakan yang terjadi setelah gempa bumi tersebut. Skala Richter, yang dikembangkan pada tahun 1935 oleh seorang ahli gempa bumi, Charles Richter, bersifat logaritma, yang berarti bahwa masing-masing keseluruhan angka berturut-turut mencerminkan meningkatnya kekuatan dan intensitas sepuluh kali lipat. Meskipun skala Richter tidak lagi banyak digunakan oleh para ahli gempa bumi (teknologi pada masa kini memberikan pencatatan aktivitas gempa bumi secara jauh lebih rinci dan akurat), umumnya kekuatan gempa bumi masih diungkapkan dengan menggunakan skala Richter yang tidak asing lagi.
Sistem lain yang digunakan untuk melukiskan intensitas gempa bumi adalah skala Intensitas Gempa Bumi Mercalli, yang dikembangkan pada tahun 1902 oleh seorang ahli gempa bumi berkebangsaan Italia, Giuseppe Mercalli. Meski telah usang, gambaran akan efek gempa bumi dalam dua belas tingkat pada wilayah berpenduduk yang disusun oleh Mercalli mampu melukiskan kerusakan yang terjadi pada berbagai tingkat intensitas gempa secara akurat. Tingkat-tingkat tersebut dicakupkan berikut ini untuk tujuan penggambaran. Intensitas di atas angka 9 digolongkan sebagai bencana besar.

Skala Mercalli

Level I: (Tingkat 2 dalam Skala Richter) Pada umumnya tidak dirasakan oleh manusia, tetapi bisa tertangkap oleh para ahli gempa bumi. 

Level II: (Tingkat 2 dalam Skala Richter) Dirasakan oleh sedikit orang. Beberapa benda seperti lampu gantung akan terayun. 


Level III: (Tingkat 3 dalam Skala Richter) Dirasakan oleh sedikit orang yang sebagian besar berada di dalam ruangan. Tingkat ini dilukiskan seperti getaran yang dirasakan saat sebuah truk sedang melintas. 


Level IV: (Tingkat 4 dalam Skala Richter) Dirasakan oleh banyak orang yang berada di dalam ruangan, tetapi hanya sedikit sekali orang yang berada di luar ruangan bisa merasakannya. Kaca-kaca jendela, piring-piring, dan pintu-pintu berderak. 


Level V: (Tingkat 4 dalam Skala Richter) Dirasakan oleh orang-orang baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Orang-orang yang sedang tidur ter- bangun; benda-benda kecil yang tidak stabil akan jatuh dan pecah; pintu-pintu bergerak. 


Level VI: (Tingkat 5 dalam Skala Richter) Dirasakan oleh semua orang. Beberapa perabot yang berat mungkin bergerak; orang-orang berjalan dengan goyah; kaca-kaca jendela pecah; piring-piring jatuh dan pecah; buku-buku jatuh dari rak; semak-semak dan pepohonan tampak berguncang. 


Level VII: (Tingkat 5-6 dalam Skala Richter) Sulit untuk tetap dalam posisi berdiri, dan terjadi kerusakan menengah hingga parah pada gedung-gedung yang tidak dibangun dengan baik. Plester, ubin, bata akan goyah, dan batu- batu akan berjatuhan; akan terjadi tanah longsor dalam skala kecil di lereng-lereng; air menjadi buram saat endapan bergejolak. 


Level VIII: (Tingkat 6 dalam Skala Richter) Sulit untuk mengendalikan mobil. dan terjadi kerusakan pada cerobong-cerobong asap, monumen-monumen, dan menara-menara. Tangki-tangki air yang berada di tempat tinggi terjatuh. dahan-dahan pepohonan patah; lereng-lereng yang curam retak. 


Level IX (Tingkat 7 dalam Skala Richter) Terjadi kerusakan yang meluas pada gedung-gedung; fondasi-fondasi retak; terjadi kerusakan serius pada waduk- waduk; pipa-pipa di bawah tanah pecah. 


Level X (Tingkat 7-8 dalam Skala Richter) Sebagian besar gedung. struktur-struktur kerangka, dan fondasi-fondasi hancur. Terjadi sejumlah tanah longsor yang besar; air meluap dari tepi-tepi sungai dan danau-danau; di beberapa tempat rel kereta api melengkung. 


Level XI (Lebih dari tingkat 8 dalam Skala Richter) Hanya sedikit gedung yang masih berdiri; jalur-jalur rel kereta api melengkung dengan hebat; banyak jembatan yang hancur; pipa-pipa di bawah tanah sama sekali tidak bisa berfungsi 


Level XII (Lebih dari tingkat 8 dalam Skala Richter) Nyaris mencapai kehancuran total. Batu-batu besar berpindah dari tempatnya; benda-benda terlempar dengan ganasnya ke udara.

Scala Richter

sedangkan menurut Scala Richter terdapat 7 level pengukuran intensitas gempa antara lain sebagai berikut:
1,0 - 3,0     Tidak diberi label oleh manusia.
3,0 - 3,9     Dirasakan oleh masyarakat di sekitar pusat gempa. Lampu gantung mulai goyang.
4,0 - 4,9     Terasa sekali getarannya. Jendela bergetar san bergeruruk, permukaan air beriak-riak, daun pintu terbuka-tutup sendiri.
5,0 - 5,9     Sangat sulit untuk berdiri tegak. Porselin dan kaca pecah, dinding yang lemah pecah, lepas dari batu bata, dan permukaan air di daratan terbentuk gelombang air.
6,0 - 6,9     Batu runtuh bersama-sama, runtuhnya bangunan bertingkat tinggi, rubuhnya bangunan lemah, ketekan di dalam tanah.
7,0 - 7,9     Tanah longsor, jembatan roboh, bendungan rusak dan hancur. Beberapa bangunan tetap, keretakan besar di tanah, trek kereta api bengkok. Terjadi kerusakan total di daerah gempa.
8,0 - keatas    Dapat menyebabkan kerusakan serius di beberapa daerah dalam radius seratus kilometer dari wilayah gempa.



Demikian artikel ini semoga bermanfaat bagi teman teman semua, karena mencegah dan mengetahui sebuah kasus akan lebih baik sebelum semua terjadi dan merenggut korban, bagaimana pun nyawa memang di tangan Tuhan namun kita sebagai manusia tidaklah boleh pasrah dengan keadaan.


30 komentar:

Post a Comment

Sebuah kehormatan bagi saya bila anda meninggalkan comment di postingan saya ini, hindari penggunaan Anonim dalam meninggalkan komentar.Jangan lupa untuk rate bintang nya. Komentar SARA akan saya hapus tanpa pemberitahuan terlebih dahulu

Related Posts with Thumbnails